muhipro RSS

Archive

May
22nd
Fri
permalink

Gelap tanpa cahaya

atas karena cahaya, segala sesuatunya dapat terlihat dan memancarkan kilau warna. Dalam analogi semesta, sang cahaya adalah matahari, sementara bumi dan yang lainnya adalah benda gelap yang terlihat rupa dan warnanya karena sinar matahari. Matahari berperan sebagai poros atau pusat dimana benda-benda seperti bumi dan yang lainnya berputar mengelilinginya, dengan sumbu dan waktu putar yang telah tertentu. Matahari seperti halnya lampu listrik yang dikerubuti laron-laron di malam hari. Laron-laron bergerak dan berputar-putar menuruti obsesi pada sang lampu. Analogi tentang sang cahaya ini, tak hendak membawa kita pada obsesi-kefanatikan pada sang cahaya yang sering kita tangkap dalam bentuk fisik seperti matahari dan api. Kita tak hendak menjadi Majusi. Kita juga tidak sedang dalam prosesi Ibrahim mencari Sang Maha Kuasa, dimana ia membandingkan cahaya bulan dan matahari. Yang saya singgung di sini adalah seringnya ketidakhadiran cahaya dalam diri kita sehingga warna-warna yang ada menjadi kelabu dan tak memancarkan kilaunya. Yang sering kita ambil sebagai penerang kemudian hanyalah cahaya artifisial yang bersifat semu dan menipu. Ada cahaya yang begitu terang nan hakiki, yang sering kita lupakan, tapi sebenarnya ada terpendam dalam diri kita sendiri.

Apr
12th
Sun
permalink
Teruslah ‘bergerak’ hingga KELELAHAN itu LELAH mengikuti-mu Teruslah ‘berlari’ hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejar-mu Teruslah ‘berjalan’ hingga KELETIHAN itu LETIH bersama-mu Teruslah ‘bertahan’ hingga KELEMAHAN itu LEMAH menyertai-mu Tetaplah ‘berjaga’ hingga KELESUAN itu LESU menemani-mu
— syaikh Rahmat Abdullah
Apr
8th
Wed
permalink
Terkadang kita bersikap ironis dalam menghadapi kenyataan. Realitasnya, akhirat secara pasti tengah menyongsong kita dan dunia secara pasti pula sedang berproses meninggalkan kita untuk selamanya. Akan tetapi kita sering tidak menyambut lambaian akhirat malah dengan mati-matian mengejar-ngejar dunia yang sedang berproses meninggalkan kita
— ustadz abu ridho
Apr
5th
Sun
permalink

klakson kebodohan

kesalahan yang berulang terus menerus, sama halnya dengan kebodohan yang mendarah daging, dan terus mengendap secara permanen.
Tapi kebodohan berkaitan dengan ketidaktahuan, dan ketidaktahuan dapat dipermaklumkan. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan pada kebodohan-kebodohan yang tersebar di seantero realitas yang kadung berkarat hingga menghitam?
Pengingatan yang tak bosan-bosan, mungkin. Semacam klakson yang dibunyikan terus menerus. Tak kan terganggu olehnya pada orang-orang yang benar-benar dungu.

Mar
13th
Fri
permalink
yang kita dapat dari surah al-Ashr, kerugian manusia menyangkut nominal satuan waktu, bukan nominal satuan mata uang, atau kekayaan materi lainnya
— Prof. Rahman
permalink

Karma Dunia

Ini mungkin jadi semacam karma. Siapa yang menuai ketidakpedulian, akan mengunduh buah cemooh dan antipati. Mungkin dalam masa yang sangat panjang. Kita bahkan sudah lupa, dan baru terngiang kembali karena sembilu penderitaan yang menusuk.

“Bertobatlah! Bertobatlah!” Hari sudah semakin senja. Mentari sudah merapat ke haribaannya. Pesta telah usai, piring-piring dan perkakas mesti segera dicuci dan dibereskan.

Mar
12th
Thu
permalink

bunga hari ini

hingga datanglah hari ini, saat kau bisa melihat hari kemarin dengan jelas. dimana bunga-bunga atau duri-duri yang bermekaran hari ini adalah benih-benih yang tersemai kemarin. “kau telah melihatnya! kau telah melihatnya!” dan benih-benih harus kau tabur lagi hari ini. cermati lagi perhitunganmu. langkahmu telah sering berkelok, walaupun tetap di depanmu adalah hari esok. langkah-langkah akan selalu harus diayunkan, berat ataupun ringan. dan hangat sang fajar akan terus menyapa, “aku datang! aku datang!”

permalink
fenomena angin puting beliung, realitas kitab sang wahyu yang mengemuka setelah sekian waktu tak tersimak
— Prof. Rahman (via TheTumbler)
Jan
1st
Thu
permalink
300 lebih jiwa gugur akibat kebiadaban si jahanam terkutuk Israel!!
— me